Main Article Content

Abstract

Kualitas aitr tanah dangkal kota majene tidak memenuhi standar kesehatan dari parameter kesadahan dan total dissolved solid (TDS) sehingga diperlukan pengolahan. penelitian bertujuan  mengetahui efektiifitas variasi ketebalan media penyaring terhadap penurunan kesadahan dan TDS. Penelitian dilakukan di dua lokasi, yaitu daerah pesisir yang bernama Pangale dan daerah pegunungan yang disebut Tande. Sumber air yang dianalisis berasal dari sumur bor dan sumur resapan. Media penyaring yang digunakan terdiri dari kombinasi ijuk, kerikil, arang aktif, dan biji kelor dengan ketebalan 9 cm, 11 cm, dan 13 cm. Pengujian dilakukan secara langsung di lapangan menggunakan alat pengukur kualitas air, dan di laboratorium berdasarkan standar SNI serta Permenkes No. 32 Tahun 2017. Dari hasil penelitian, terlihat bahwa semakin tebal media penyaring, semakin efektif penurunannya terhadap TDS dan kesadahan. Untuk parameter kesadahan, penurunan terbesar terjadi pada ketebalan 13 cm pada sumur resapan Pangale yang mengalami penurunan dari 727,15 mg/L menjadi 517,55 mg/L, dan di sumur bor Tande dari 352,25 mg/L menjadi 333,25 mg/L. Pada parameter TDS, penurunan paling besar juga tercatat pada ketebalan 13 cm, sumur bor Pangale yang turun dari 955 ppm menjadi 540 ppm dan pada sumur resapan Tande dari 1018 ppm menjadi 722 ppm.

Keywords

Filtran,Kesadahan, TDS

Article Details

How to Cite
Yusman. (2026). Efektifitas Filtran pada Peningkatan Kualitas Air Air Tanah Dangkal Daerah Pangale dan Tande Kota Majene. Jurnal Teknik Sipil , 1(2), 23-31. https://doi.org/10.31605/jutsi.v2i2.6087

References

  1. Bansal, R. C., & Goyal, M. (2005). Activated Carbon Adsorption. CRC Press.
  2. Effendi, H. (2003). Telaah Kualitas Air. Yogyakarta: Kanisius.
  3. Freeze, R. A., & Cherry, J. A. (1979). Groundwater. New Jersey: Prentice Hall.
  4. Jacky A. Nenohai (2023) ‘BERBAGAI BIOMASSA LAINNYA DALAM MENGATASI PENCEMARAN AIR : ANALISIS REVIEW’, Jurnal Imu Lingkungan, 21(1), pp. 29–35. doi: 10.14710/jil.21.1.29-35.
  5. Katayon, S., et al. (2006). Effects of storage conditions of Moringa oleifera seeds on its performance in coagulation. Bioresource Technology, 97(13), 1455–1460.
  6. Metcalf & Eddy. (2014). Wastewater Engineering: Treatment and Resource Recovery. McGraw-Hill.
  7. Ndabigengesere, A., & Narasiah, K. S. (1998). Quality of water treated by coagulation using Moringa oleifera seeds. Water Research, 32(3), 781–791.
  8. Nurullita, U. (2010) ‘PENGARUH LAMA KONTAK KARBON AKTIF SEBAGAI MEDIA FILTER TERHADAP PERSENTASE PENURUNAN KESADAHAN CaCO3 AIR SUMUR ARTETIS’, Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia, 6(1), pp. 48–56.
  9. Roman, M., Bunyani, N. A. and Naisanu, J. (2020) ‘Utilization of Moringa Seed Flour as a coagulant , palm fiber , and activated charcoal in an effort to improve domestic wastewater’, Jurnal Biologi Tropis.
  10. Sutrisno, C. T., & Suciastuti, E. (2010). Teknologi Penyediaan Air Bersih. Jakarta: Rineka Cipta.
  11. Todd, D. K., & Mays, L. W. (2005). Groundwater Hydrology. John Wiley & Sons.
  12. World Health Organization (WHO). (2017). Guidelines for Drinking-water Quality. Geneva.